Keindahan kawasan wisata justru bisa terancam seiring meningkatnya jumlah kunjungan.Hal ini disebabkan oleh masyarakat lokal yang kurang sadar akan lingkungan pariwisata di daerah rumahnya, sehingga para wisatawan tidak dapat diawasi dalam melakukan perjalanan wisatanya ke Indonesia. Pariwisata yang di satu sisi membantu pertumbuhan ekonomi kawasan, namun menjadi bumerang bagi kelestarian alamnya.
Bali sebagai contoh, pada tahun 2017 mengalami darurat sampah, salah satunya adalah sampah plastik yang saat ini susah untuk dikelola maupun dikurangi, sampai tahun 2019 Indonesia berada dalam posisi kedua di Dunia dalam menyumbangkan sampah plastik. setiapa hari, sepanjang enam kilometer garis pantai yang mencakup pantai populer seperti Jimbaran, Kuta ,dan Seminyak disesaki berton-ton sampah.

Sebanyak 700 tenaga pembersih dan 35 truk untuk membuang sekitar 100 ton sampah setiap hari ke tempat pembuangan sampah, demikian keterangan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, Kabupaten Badung, Bali.
Semakin ironis karena target kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali digenjot sampai angka 7 juta orang tahun ini. Lalu lalang jutaan pelancong ke Pulau Dewata yang hanya dihuni sekitar 4 juta penduduk lokal itu mau tidak mau berdampak buruk pada lingkungan.

Bali bukan tempat pertama yang merasakan dampak buruk pariwisata bagi lingkungan. Thailand telah menutup salah satu pulau mereka dari kunjungan turis, akibat krisis sampah dan sisa-sisa makanan yang menghancurkan ekosistem di sana. Sebenernya itu salah satu cara untuk mengurangi sampah di Indonesia, tapi pemerintah harus melakukannya secara bertahap agar tidak menunda laju perekonomian industri pariwisata.
Negara-negara lain misal Kamboja, Kuba, Islandia bahkan Venesia sampai Barcelona pun pernah menderita akibat meledaknya angka kunjungan wisata ke daerah mereka.

Semakin mudah dan murahnya biaya untuk bervakansi secara langsung menyebabkan naiknya jumlah angka kunjungan wisata.
Sekretaris Jenderal Organisasi Pariwisata Dunia (United Nation World Tourism Organization) Taleb Rifai menyebut jumlah pergerakan wisatawan di seluruh dunia mencapai 1,2 miliar orang setiap tahun.
Jumlah ini dikatakan akan terus meningkat hingga mencapai perkiraan 1,8 miliar orang pada tahun 2030 mendatang.

Lalu dampak lain apa yang ditimbulkan oleh pariwisata pada penduduk lokal? Perlahan tapi pasti penduduk lokal mulai terusir dan terpinggirkan jika pengembangan daerah wisata tidak memihak mereka.
Misal yang terjadi di Tanzania, Afrika bagian Timur pada tahun lalu. Akibat proyek pemerintah dalam mengembangkan sektor pariwisata di Taman Nasional Serengeti, maka mengakibatkan 6.800 penduduk lokal suku Masai kehilangan rumah akibat penggusuran.

Beberapa kasus lain mengatasnamakan pengembangan pariwisata juga berdampak buruk bagi masyarakat sekitar.
Pada sebuah survei yang dilakukan tahun 2016 pada turis asal Amerika Serikat, sebanyak 60 persen dari mereka ingin memastikan perjalanan wisata mereka tidak berdampak negatif pada lingkungan, pangan dan ekonomi di daerah tujuan wisata.
Untuk menyelamatkan pariwisata dari citra negatif, sekaligus tetap berdaya bagi lingkungan dan penduduk lokal, beberapa negara membuat program khusus yang dapat ditiru.
Misal dengan program ekowisata, wisatawan diajak untuk melestarikan lingkungan alam yang mereka kunjungi. Kegiatan ini telah meningkat di negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko, Panama dan Kosta Rika.
Bisa juga dengan menggiatkan voluntourism, program yang memungkinkan wisatawan memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan sosial saat berlibur. Misalnya, program di Kamboja menawarkan peluang menjadi relawan di panti asuhan.
Negara kecil di Asia Selatan, Bhutan melakukan cara unik dengan membatasi jumlah wisatawan yang masuk ke negara mereka serta memastikan para turis menghabiskan sedikitnya 200 Dolar AS per hari.
Di Malaysia, pemerintah daerah di Melaka dan George Town mendorong partisipasi warga dalam rencana manajemen pariwisata serta membentuk komite untuk menciptakan visi bersama untuk memajukan pariwisata di kota-kota mereka.
Warga juga terlibat dalam rencana membangun kembali bangunan tradisional, sekaligus melestarikan budaya dan sejarah kota mereka sambil memberikan manfaat keuangan kepada masyarakat setempat.
Penulis wisata sekaligus fotografer, Bani Amor menyarankan agar Anda menghindari pergi ke tempat yang perekonomiannya terlalu bergantung pada pariwisata, seperti Bali dan Aruba. Juga jangan pergi ke suatu tempat kecuali Anda memang punya koneksi ke komunitas di sana
Hindari tempat-tempat yang secara eksplisit tidak ingin kehadiran wisatawan, seperti Venesia dan Kepulauan Galapagos. Tapi, kunjungilah tempat-tempat yang memiliki koneksi khusus atau sejarah pribadi.
Tidak ada cara untuk menjadi pelancong yang sempurna. Tetapi mengidentifikasi tempat-tempat yang perlu atau tidak dikunjungi, mungkin merupakan langkah pertama untuk menjadi pelancong yang baik.